Halaman

Sabtu, 19 Januari 2013

Sejarah Batik Tulis Lasem

Batik tulis lasem merupakan salah satu jenis batik yang sudah ada sejak tahun 1314 Masehi. Keberadaan batik tulis lasem ini bersamaan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho yang telah di akui kualitas dan coraknya yang begitu elegan. Ada pula batik tulis lasem hasil karangan Mpu Santri Badra yang di buat pada tahun 1401 Saka atau tahun 1479 Masehi yang akhirnya di tulis kembali oleh Raden Panji Kamzah pada tahun 1858. Ia menyebutkan bahwa ada anak buah kapal dari Dhang Puhawang Tzeng Ho yang berasal dari Negara Tiong Hwa, Bi Nang Un beserta istrinya Na Li Ni yang lebih memilih untuk menetap di Bonang setelah menyaksikan keindalan alam jawa.

Batik Tulis Lasem


Di tempat tinggal baru mereka inilah sang istri Na Li Li muali membuat batik burung hong, banji, bunga seruni, liong, mata uang serta warna merah darah ayam khas Negara Tiong Hwa. Motif-motif inilah yang menjadi ciri khas unik dari batik tulis lasem.


Keunikan dari batik tulis lasem akhirnya mendapatkan tempat terpenting dalam dunia perdagangan. Para pedagang antar pulau akhirnya mengirim batik tulis lasem ke seluruh wilayah Nusantara. Bahkan, sejak awal abad XIX batik tulis lasem telah di expor hingga ke Thailand dan Suriname. Pada masa itu batik tulis lasem memasuki masa kejayaannya.

Grosir Batik Tulis Lasem


Ketenaran batik tulis lasem di berbagai penjuru nusantara membuat para perajinnya menjadi semakin kreatif dalam membuat motif-motif baru. Motif-motif baru yang di ciptakan tersebut seperti watu pecah, kricakan, latohan, serta gunung ringgit. Motif kricakan dibuat karena perajinnya terinspirasi oleh penderitaan rakyat yang di haruskan memecahkan batu-batu yang berukuran besar untuk mebuat jalan raya pos oleh Daendels. Selanjutnya perkembangan batik tulis lasem terus mengalami psang surut hingga saat ini.